Rabu, 31 Desember 2014

Legenda Danau Laut Tawar

Ini cerite masa pudaha
tentang gayo negeri antara
ara unok perasin ni jema
jemae taat lagi bijaksana…
wan sara masa mudepet amanah,
munetos kapal i kute mekah,
renye batang kayu ari takengen iemah..
oya le mulo asal kejadien
kati ara lut i kute takengen
Munge nguk ken inget-ingeten
Sa metehe ara sudere si nge lupen…

Danau Laut Tawar dari pantan terong (LG | Khalisuddin)
Danau Laut Tawar dari pantan terong (LG | Khalisuddin)
KONON dahulu kala ada sebuah desa yang tersembunyi di atas gunung. Gunung-gunung melengkung memagari wilayah tersebut. Hasil alam yang berlimpah ruah, masyarakatnya hidup serasi dengan alam. Tersebutlah dataran Gayo, dataran tinggi di mana kemakmuran melingkupi penduduknya.
Dahulu di daerah ini, ada sebuah kolam kecil di tengah hutan yang luas lagi lebat yang di dalamnya hanya hidup beberapa ikan saja. Airnya memancar keluar dari dalam tanah seperti air yang mendidih sangat jernih sekali, sehingga seluruh hewan yang menghuni hutan tersebut sangat suka meminum air dari kolam itu. Bukan saja hewan yang acap datang ke kolam itu, bidadari dari kayangan pun konon sering mengunjungi kolam tersebut untuk sekedar mandi sambil bermain dan bercanda sesama mereka. Menurut cerita, Putri Bensu adalah salah satu nama dari bidadari tersebut yang turut mandi bersama dengan kakak-kakaknya sambil berluluran di atas batu besar yang ada di tepi kolam. Sementara di sebelah bebatuan yang besar lainnya biasanya ada seorang pemuda bernama Malim Dewa yang selalu meniup seruling dengan merdunya untuk memikat hati sang bidadari terutama Putri Bensu. Setelah mandi para bidadari ini akan kembali ke langit yang lebih dikenal dengan nama Negeri Antara.
Di pinggiran kolam yang jernih ini pun tumbuh sebatang pohon yang sangat besar batangnya, banyak buahnya serta rimbun daunnya. Tempat dimana segala jenis binatang yang hidup di hutan tersebut untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan sambil beristirahat sejenak setelah melalang buana mencari makanan, sekaligus tempat menghilangkan rasa dahaga karena kolam tersebut airnya sangat jernih serta berada tepat di samping pohon besar. Begitu pun dengan burung-burung yang bermain dari cabang satu ke cabang yang lainnya lagi sambil mencari makanan di atas pohon kayu yang besar tadi. Mereka memakan buahnya sembari mencari ulat-ulat kecil yang merayap di atas cabang serta daunnya yang rimbun sebagai makanan tambahan. Tidak hanya ada pohon besar itu di pinggir kolam tersebut, tumbuhan lainpun hidup subur mengelilingi kolam walau memang tidak sebesar pohon yang satu itu.
Pada zaman itu hiduplah seorang ulama yang sangat disegani dan sangat di hormati oleh masyarakat Gayo karena keta’atannya dalam beribadah, arif dalam mendudukkan perkara lagi bijaksana dalam bersikap, ulama ini bernama Aulia. Sang Ulama memiliki ciri badan yang sangat berbeda dari manusia sekarang, beliau berbadan sangat besar dan tinggi, memiliki langkah kaki yang sangat lebar, tidaklah seberapa tingginya gunung-gunung yang menjulang di muka bumi serta dalam, panjang dan luasnya lautan di samudra. Seperti itulah kira-kira besar badannya, luas langkahnya, hanya khayalan kita saja yang bisa menyimpulkannya. Sehingga sang Ulama di juluki dengan nama Unok . Sampai sekarang julukan Unok masih melekat di antara masyarakat Gayo. Biasanya diberikan kepada mereka yang berbadan besar, tinggi dan mempunyai langkah kaki yang lebar.
Ketaatan Sang Unok dalam beribadah kepada Allah SWT menjadi tauladan di dataran tinggi Gayo. Banyak kabaran mengatakan kalau Unok sering terlihat di tanah suci untuk beribadah apalagi ketika hari Jum’at tiba beliau selalu mengerjakan shalat Jum’at di Mekkah, sehabis mandi beliau mengenakan pakaian yang sangat bagus lagi bercahaya harum pula wangi tubuhnya padahal jarak Mekkah dan Gayo sangat lah jauh bila di ukur dengan angka-angka skala, tetapi tidak bagi Unok dengan sekejap mata beliau bisa sampai di Mekkah. Unok tidak berlama-lama berada di Mekkah, sehabis melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah beliau langsung kembali lagi ke dataran tinggi Gayo, tak pernah ada yang mengetahui dengan cara apa beliau bisa sampai di Mekkah, atau mahluk apakah yang beliau tunggangi. Mungkinkah Unok mengendarai Burak seperti kendaraan Nabi pada saat pergi menuju Sidratul Muntaha, atau mungkin beliau terbang, karena belum pernah ada yang melihat secara langsung. Namun menurut kabaran beliau biasanya hanya berjalan kaki menuju ke Masjidil Haram.
Pada suatu hari yang mana menurut penanggalan sebagai hari serta bulan yang baik, turunlah sebuah ilham atau amanah kepada Sang Ulama bahwa nanti suatu hari akan turun cobaan dari Allah SWT kepada seluruh mahluk hidup yang ada di bumi untuk menguji siapa-siapa saja yang beriman dan siapa-siapa yang tidak di antara mereka. Apabila dia beriman maka dia akan selamat dari cobaan ini karena memegang teguh amanat atau perintah Tuhan, sementara yang tidak, pasti akan mendapat azab dariNya karena ingkar serta durhaka terhadap perintahNya. Cobaan yang maha dahsyat itu berupa banjir besar yang akan menenggelamkan semua yang ada di bumi baik daratan maupun gunung-gunung yang tinggi sekalipun. Semua akan ikut tenggelam saat air itu datang, dunia akan tergenang bak lautan yang luas.
Dalam ilham tersebut Unok diperintahkan untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar agar bisa melindungi dan menyelamatkan mahluk hidup yang beriman. Di dalam perahu itulah nanti seluruh mahluk hidup akan tinggal sementara, makan dan minum serta bisa mengangkut bekal makanan karena tidak ada yang mengetahui sampai kapan banjir itu akan surut atau berhenti. Entah berapa bulan atau mungkin berbilang tahun. Perahu besar pun harus segera di buat dan akan diletakkan di sebuah tempat yang berdekatan dengan Mekkah.
Pada hari baik, setelah ada kesepakatan untuk membuat perahu yang besar, mulailah Unok dan orang-orang yang percaya akan alamat ilham Sang Unok mengumpulkan perkakas dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat perahu besar tersebut. Pohon-pohon mulai di tebang, tali tambang mulai di rajut. Membuat perahu yang besar di perlukan pohon yang besar serta banyak pula, maka Unok memutuskan untuk memilih batang pohon besar yang ada di samping kolam ikan di tengah hutan. Dengan segera mulailah Unok menarik kuat batang pohon tersebut karena memang sangat besar dan berumur sangat tua. Unok hampir kehabisan tenaga namun terus menarik batang pohon tersebut, begitu kuatnya Unok menarik hingga batang pohon tersebut tercabut beserta dengan akar-akarnya yang mengurat dalam di tanah. Setelah batang pohon besar tadi berhasil di cabut oleh Unok maka ia membawanya dengan cara menyeret ke tanah sampai ke tepi pantai Laut Aceh dan meneruskanya hingga menyeberangi lautan yang luas sehingga hampir mendekati Mekkah. Bekas akar pohon besar tadi yang tanahnya terbongkar sehingga membentuk lubang yang sangat besar serta sangat dalam, lama-kelamaan air kolam memenuhi lubang tersebut, airnya pun semakin hari semakin banyak hingga kolam tersebut berubah menjadi danau yang dikenal dengan nama Danau Laut Tawar dan kabarnya bekas batang pohon besar yang diseret Unok itu kini telah menjadi Arul (sungai) yang bernama sungai Peusangan yang mengalirkan air dari Danau Laut Tawar menuju pesisir Aceh saat ini.(irwanputra88[at]gmail.com)
Irwan Putra* Mahasiswa asal Bener Kelipah di Bandung

Meraba Jejak Kerajaan Linge dan Islam di Gayo

Umah Pitu Ruang Linge | Kha A Zaghlul
Umah Pitu Ruang Linge | Kha A Zaghlul
SENJA itu mentari nyaris pulang keperaduannya, suatu pertanda bahwa bumi akan segera larut dalam gelapnya perputaran waktu. Namun bak menyibak hukum alam, Waspada bersama tim arkeologi mulai menerobos keremangan, di bawah curah hujan yang kala itu menguyur Aceh Tengah.
Tujuan utama Waspada bersama tim Balar Medan, melintasi perjalanan panjang sekitar 100 kilometer menuju lokasi Kerajaan Linge, dari Kota Takengen, Aceh Tengah untuk meliput temuan artefak (benda atau data arkeologis) berupa fragmen zaman sejarah.
Jalan menanjak dan menurun dengan cuaca kurang bersahabat tak menyurutkan semangat tim saat itu. Sementara, mendekati tujuh kilometer terakhir menuju lokasi ekskavasi di Linge, kendaraan yang ditumpangi tim sempat terdengar meraung. Karena sebagian jalur lintas ‘ terkoyak’ diantara lapisan tanah merah dan batu koral. Hal ini terkadang memacu adrenalin dan degup jantung.
Singkatnya, kendati rombongan ini telah sampai di tujuan terakhir. Namun rintangan belum berlalu. Jembatan menuju areal bersejarah di Linge ini ternyata belum layak pakai (putus). Terpaksa menuju ke sana, tim harus mengarungi sungai kecil berkedalaman sekitar 60 centimeter.
Selanjutnya, setelah melewati anak sungai dengan kondisi cuaca malam kian mengulita, regu ini kembali harus menempuh jarak 200 meter dengan berjalan kaki, mengunakan senter mancis sebagai pelita. Menuju rumah sang juru kunci makam Reje (raja) Linge. Yang mana, sejumlah tim arkeolog lainnya telah menunggu kedatangan tim susulan ini.
Setelah sejenak melepas lelah serta beramah tamah dengan keluarga Abd Razak Aman Jalil (juru kunci makam Reje Linge). Kemudian Waspada bersama tim gabungan arkeolog Balar Medan ini, disuguhkan makan malam oleh tuan rumah. Dilanjutkan dengan hidangan kopi panas sebagai tradisi menu ‘menyambut’ tamu di Gayo.
“Dalam penelitian kali ini kami menemukan serpihan sisa benda dari zaman sejarah. Meski berbentuk fragmen (serpihan atau pecahan), namun dari sinilah kita akan memulai menggali keberadaan sejarah Kejayaan Linge pada masanya,” ungkap ketua tim arkeolog, Lucas Partanda Koestoro saat mengawali perbincangannya dengan Waspada di Buntul Linge.
Dia katakan, meski ekskavasi yang dilakukan masih di luar benteng kerajaan Linge, namun, selain fragmen keramik dan gerabah, juga telah ditemukan serpihan tulang (bovidae). Khusus temuan pecahan benda, diketahui berasal dari negeri China dan Eropa.
“Fragmen bercorak tembikar ini merupakan barang bernilai pada masa itu. Ini memperlihatkan bahwa Linge sebagai daerah kerajaan di Pedalaman Sumatera memiliki hubungan budaya dan dagang dengan daerah lain yang berjauhan (pesisir).”
“Ditaksir, temuan ini juga masih berusia muda. Penyebarannya ke Linge melalui niaga diduga dengan cara barter pada abad 19-20 masehi. Selain itu, berdasarkan batu nisan di makan Reje Linge dengan tulisan kalimat toibah dari abad 17-18 masehi, diketahui bahwa masyarakatnya menganut kepercayaan dan ajaran Islam,” lanjut Lucas.
Untuk mengetahui secara pasti kepercayaan apa yang dianut sebelum Islam di abad 17-18 masehi di Linge? Dia mengatakan pihaknya harus kembali melakukan penelitian lebih mendalam. Apalagi hingga kini, bukti secara tertulis belum ditemukan. Di mana sumber yang ada masih berdasarkan keterangan warga setempat melalui cerita legenda secara turun temurun.
“Di Buntul Linge ini masih ditemukan bukti fisik bekas istana kerajaan. Namun tidak ditemukan prasasti maupun bukti tertulis pendukung lainnya. Hanya saja ditemukan bentuk umum batu nisan yang kerap dijumpai di nusantara, dikenal dengan sebutan batu aceh. Bahkan corak seperti ini telah pernah ditemukan di Malaysia, Tanjung Pinang dan di Banten,” tuturnya.
Komplek Makam Reje Linge | Kha A Zaghlul
Komplek Makam Reje Linge | Kha A Zaghlul
Masa Kejayaan Linge, Peradaban Gayo Telah Maju
Masih menurut, Lucas Partanda Koestoro, berdasarkan keterangan diperoleh pihaknya dari warga setempat jauh sebelum abad 20 masehi, etnik Gayo di Linge telah memiliki peradaban maju. Mereka mampu mengolah bahan pangan seperti; garam dan minyak sayur tanpa ketergantungan dengan daerah pesisir.
“Image yang berkembang warga pedalaman (Gayo-red) begitu ketergantungan dengan daerah pesisir untuk mendapatkan bahan pangan. Tapi berdasarkan hasil penelitian kami, hal ini bisa saja tidak benar. Karena Etnik Gayo masa lalu di Linge telah mampu menghasilkan garam maupun minyak dari bahan kelapa,” jelasnya.
Di masa kejayaan Kerajaan Linge, tutur Lucas, masyarakat telah mengolah garam dari pohon pepoa (poa-garam) dengan tehnis melakukan pembakaran. Di mana abunya kemudian direbus dengan air. Ampasnya-lah yang dijadikan garam. Meski dari segi rasa kurang enak, namun kandungan yodium tak jauh beda dengan produksi garam zaman modern.
“Untuk minyak sayur sendiri, warga Linge pada masa itu telah memiliki bahan baku kelapa. Ditambah potensi alam yang cocok untuk bertanam kelapa, berada diketinggian 600 -1000 meter dari permukaan laut (DPL). “
“Artinya, produksi minyak sudah melimpah kala itu, bahkan dari penuturan tetua di sini, hasilnya pernah dipasarkan hingga ke daerah Gayo Lut, (Takengen), setidaknya berlaku hingga dibawah tahun 1950-an,” kata lucas menutup ceritanya, sembari mengajak timnya untuk beristrahat, karena waktu telah menunjukan jam malam. (bersambung)
*Wartawan Harian Waspada. Tulisan ini sudah pernah di harian Waspada edisi 27 Nopember 2012
Irwandi MN*

Seribuan Makam di Linge, Bukti Otentik Masa Kejayaannya

Komplek Makam Reje Linge (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Komplek Makam Reje Linge (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
BERCERITA Kerajaan Linge massa lalu seperti tak pernah habisnya, setidaknya hal itu yang dirasakan oleh masyarakat Gayo di wilayah pedalaman Aceh. Mereka berupaya merangkai identitas untuk mengungkap dan mencari jatidirinya.
Tim Balar Medan yang sedang melakukan penelitian dan ekskavasi di sana hingga kini belum menemukan prasasti atau sumber tulis untuk mengungkap secara menyeluruh keberadaan Kerajaan Linge masa lalu. Namun, adanya sekitar seribuan kubur di antara makam Reje (raja) Linge merupakan bukti otentik kerajaan tersebut pernah ‘berkibar’.
“Bila dinilai dari jumlah penduduk yang hanya puluhan KK menetap di Buntul Linge saat ini. Sepertinya Tidak mungkin lokasi penguburan manusianya bisa menghabiskan satu gunung dengan jumlah makam cukup banyak. Dari itu, saya menilai pada saat itu Linge ini pernah menjadi daerah pemukiman dengan jumlah warga begitu padat,” jelas Lucas Partanda Koestoro, ketua tim arkeologi, kepada Waspada, saat mengunjungi lokasi Makan Reje Linge di Buntul Linge, Aceh Tengah.
Dia mengatakan, dimungkinkan di masa kejayaan Kerajaan Linge selain, penduduknya telah mengenal ilmu pertanian, dagang (barter) juga telah mengenal dan mengikuti perkembangan zaman dengan baik. Hal ini diperkuat dengan temuan fragmen keramik dan gerabah, diduga merupakan barang mewah pada masanya.
“Kesimpulan kami sementara, mereka mengenal benda mewah karena punya selera dan indikasinya memiliki budaya yang tidak rendah. Selain itu keberadaan makam yang rapat ditengah belantara hutan ini bisa membuka sejarah, bagaimana keberadaan kerajaan Linge saat itu,” terang Lucas, sembari menambahkan tingkat ekonomi penduduk Linge waktu itu sangat tinggi, diperkirakan berlangsung sekitar abad 19 sampai awal abad 20 masehi.
Diprediksi, Kerajaan Linge Terpendam di Bawah Tanah
Titik ekskavasi di Buntul Linge (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Titik ekskavasi di Buntul Linge (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Secara bersamaan, Dani Sutrisna, merupakan ahli arkeolog lainnya dari Balar Medan mengatakan, keberadaan fisik kerajaan Linge diprediksi telah terpendam di dalam tanah, dan posisi tepatnya ditaksir berada di bagian bawah umah pitu ruang (rumah adat Gayo) yang hingga saat ini masih berdiri kokoh.
“Dari keterangan tetua di sini, ada kemungkinan bentuk fisik kerajaan ada dibawah tanah di lokasi berdirinya rumah adat Gayo ini. Namun tidak mudah untuk membuktikannya. Hal ini selain membutuhkan waktu, juga musti ada temuan lain yang mengarah kepada pengakuan warga ini,” ucapnya.
Dia menambahkan, dalam ekskavasi dan penelitian yang dilakukan pihaknya di Buntul Linge, hingga saat ini penggalian masih dilakukan diluar benteng lokasi kerajaan. Tidak dibagian dalam . Hal ini karena belum adanya izin dari pihak penjaga makam.
“Ada tiga titik yang kami gali di luar benteng lokasi kerajaan dalam penelitian kali ini. Dari situlah fragmen (pecahan) gerabah, keramik dan tulang ditemukan pada kedalaman 50 centimeter,” sebut Dani.
Nuansa Mistis di Lokasi Kerajaan Linge
Abd Razak Aman Jalil, merupakan juru makan Reje Linge, dalam keterangannya menyebutkan, bagi pendatang yang mengunjungi lokasi ; makam dan umah pitu ruang atau tempat berdirinya kerajaan Linge, harus bersikap sopan sesuai aturan. Sementara bila melanggar, bisa tejadi sesuatu yang tak dinginkan.
“Pernah kami lihat, sekelilingi kerajaan ini mengeluarkan cahaya dengan sinar yang cukup terang. Hal ini setelah adanya rombongan pengunjung yang masuk ke sana tanpa permisi. Mereka akhirnya berlarian keluar dan untung tidak terjadi apa-apa,” ungkapnya.
Dari itu katanya, hendaknya bagi siapa saja yang berkunjung dan melakukan aktifitas di sana, hendaknya terlebih dahulu meminta izin. Guna menghindari terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Secara terpisah, Gecik Buntul Linge, Karismansyah menyebutkan, keberadaan wilayah kerajaan tersebut merupakan tempat yang ‘dihormati’ oleh warga di sana. Masyarakat secara bersama menjaga dan melestarikan keberadaannya.
“Kami telah menetap secara turun temurun di Buntul Linge ini. Mayoritas rakyat kami bersawah dan mengembangkan ternak. Ada juga sebagian yang berbudidaya coklat, kopi robusta dan berbudidaya tanaman lainnya,” ringkasnya.
Temuan Balai Arkeologi (Balar Medan) berupa fragmen gerabah, keramik dan tulang di Buntul Linge, Aceh Tengah, setidaknya telah menguak tabir sejarah keberadaan Kerajaan Linge dan manusianya di masa lalu. Akankah mereka menemukan temuan berikutnya dalam ‘misinya’ ke Gayo ini? Semoga…..(Habis)

Irwandi MN*
*Wartawan Harian Waspada. Tulisan ini sudah pernah di harian Waspada edisi 27 Nopember 2012

Nab Bahani AS: Peran Reje Linge Sebatas Kearifan Lokal Saja


Nab Bahani AS: Peran Reje Linge Sebatas Kearifan Lokal Saja
NABAHANI
Raja-raja di Indonesia sebenarnta sudah bubar sejak republik Indonesia lahir. Raja-raja sekarang yang bertahan seperti Keraton di di Pulau Jawa, itu karena inisiatif masyarakat dan daerah untuk mempertahankan kearifan lokal. Begitu pula Gayo, sah-sah saja mengangkat Reje Linge untuk memperkuat kearifan lokalnya.
“Sudah pasti Raja-raja itu harus secara tradisi, karena kerajaan yang ada harus diluar sistem kenegaraan, karena tidak boleh ada negara dalam negara,” kata budayawan dan kolomnis sejarah Aceh Nab Bahani AS kepada Lintas Gayo saat dikonfirmasi terkait penobatan Reje Linge ke-20 di Banda Aceh.
Menurut Nab Bahani pengukuhan Reje Linge ke-20 secara kearifan lokal sangat menguntungkan dapat menjalankan perannya sebagai penjaga tradisi, namun secara kebijakan kenegaraan tidak boleh, karena negara sudah diatur Undang-undang.
“Peran Reje Linge sebatas kearifan lokal saja,” lanjut Nab Bahani.
Namun Nab Bahani menyebutkan, kalau kebijakan pemerintah selalu melibatkan Reje Linge, itu sangat baik karena singkronisasi pembangunan betul-betul berjalan. “Kalau pemerintah melakukan itu, kedua belah pihak saling menguntungkan,” jelas penyunting buku Tarikh Aceh dan Nusantara karya H.M. Zainuddin. (Atia)

Ini Dia Fakta Ilmiah Urutan Pemangku Reje Linge

Konon inilah Bawar Reje Linge koleksi Erah Linge. (LIntas Gayo | Win Ruhdi Bathin)
Konon inilah Bawar Reje Linge koleksi Erah Linge. (LIntas Gayo | Win Ruhdi Bathin)
Banda Aceh | Lintas Gayo – Penobatan Iklil Ilyas Leube sebagai pemangku Reje Linge banyak memunculkan pertanyaan, karena itu masih menggunakan sumber yang tercatat dalam buku H Ar Latief tahun 1995 berjudul “Pelangi Kehidupan Gayo dan Alas” dan Teungku H. Mahmud Ibrahim dalam bukunya “Mujahid Dataran Tinggi Gayo” dalam cetakan kedua tahun 2007.
Namun dalam buku yang ditulis Ashar Yadi berjudul “Lingeku Sayang Lingeku Malang” tahun 2008 tertera Teungku Ilyas Leube adalah Reje Linge ke-19, sama dengan hasil penelitian Ilmiah yang dilakukan Salman Yoga tahun 2007-sampai sekarang untuk kebutuhan penulisan buku biografi Tgk Ilyas Lebe, juga hasilnya menyebutkan Ilyas Leube adalah Reje Linge ke-19.
Berikut urutan Reje Linge yang didalamnya termasuk hasil buku Ashar Hadi dan penelitian Salman Yoga tentang Ilyas Leube, tanpa memasukan Reje Linge ke-20 Tgk Iklil Ilyas Leube ;
Reje Linge I : Ahmad Syarif
Reje Linge II : Meurah Ishaqsyah
Reje Linge III : Meurah Jernang
Reje Linge IV : Adi Genali
Reje Linge V : Alisyah
Reje Linge VI : Bujang Lano
Reje Linge VII : Kejurun Jagong
Reje Linge VIII : Ayub
Reje Linge IX : Hud
Reje Linge X : Mahmud
Reje Linge XI : M. Saleh
Reje Linge XII : Lhut
Reje Linge VIII : Bukit
Reje Linge XIV : Alisyah
Reje Linge XV : Aman Nyak
Reje Linge XVI : Cut
Reje Linge XVII : Sasa
Reje Linge XVIII : Abdul Muthalib
Reje Linge XIX : Tgk. Ilyas Luebe
(Atia/Red003)

Dataran Gayo Sudah Dihuni Sejak 7400 Tahun Lalu

DATA sejarah Gayo kembali bertambah. Dari hasil penelitian arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Medan akhir tahun 2012 lalu ternyata kawasan tepi danau Lut Tawar sudah didiami sejak 7525 tahun yang lalu. Lebih tua 125 tahun dari temuan sebelumnya, 7400 tahun.
“Dari sejumlah sampel yang kita analisa carbon datin pasca penggalian terakhir yang hasilnya kami terima beberapa hari lalu, ternyata di gua Mendale sudah dihuni sejak 7525 tahun lalu,” kata Ketut Wiradnyana kepada Lintas Gayo, Minggu 27 Januari 2013 lalu.
Selain itu, di Loyang (gua) Mendale juga ditemukan manik-manik dari berbagai bahan seperti kaca dan kulit kerang.
“Manik-manik berbahan kulit kerang berumur 3100 tahun sementara berbahan kaca berasal dari Asia Pasifik Cina yang diproduksi di abad 12-an,” kata Ketut.
Kesimpulan lainnya, dijelaskan penulis buku “Gayo Merangkai Identitas” ini pada abad 12 di Gayo sudah terjadi perdagangan yang dilakukan oleh orang India.
"Karenanya ada pengaruh India di Gayo," simpul Ketut.
Saat itu, bahan dagangan yang populer dari Gayo adalah hasil dari hewan seperti daging, kulit, gading serta hasil hutan lainnya.
“Di abad 12, kawasan Aceh pesisir sudah ramai begitu juga di Gayo. Dan untuk temuan artefak dan ekofak di Buntul Linge pernah dipakai di abad 5, 8 dan 12,” tutup Ketut Wiradnyana.[]

Minggu, 28 Desember 2014

10 Fakta Menarik Tentang Bulan (II)

Setiap tahunnya, bulan mencuri sebagian energi rotasi bumi. Citra permukaan bulan
Citra permukaan bulan (news24.com)
Bulan adalah "tetangga" terdekat Bumi di luar atmosfer. Benda luar angkasa ini banyak dikenal sebagai lampu penerang Bumi tatkala malam hari. Namun, sejatinya bulan tidak memancarkan cahaya sendiri dan cahaya bulan itu berasal dari pantulan cahaya matahari.

Berikut ini ada 10 fakta menarik dan mengejutkan dari bulan (bagian II).

6. Bulan berbentuk telur
Bentuk bulan tidak bulat seperti bola, tapi lebih menyerupai telur. Saat Anda mengelilingi bulan, ketika berada di permukaan yang kecil itu berarti Anda berada di ujung bulan. Selain itu, bulan juga tidak ada pusat geometris.

7. Di bulan ada gempa
Saat mengunjungi bulan, para astronot menggunakan seismometer untuk mengetahui apakah ada gempa di bulan. Ternyata, bulan tidak benar-benar mati secara geologis. Gempa kecil ternyata terjadi di bulan. Diduga gempa ini disebabkan oleh gravitasi Bumi.

Para peneliti memperkirakan bahwa bulan memiliki inti panas sama sepeti Bumi. Dari data pesawat luar angkasa NASA Lunar Prospector yang mendarat di bulan, menemukan bahwa inti bulan ternyata sangat kecil, besarnya antara 2-4 persen dari massa bulan.

8. Apakah bulan termasuk planet?
Ukuran bulan lebih besar dari Pluto, ukurannya kira-kira seperempat dari Bumi. Beberapa peneliti berpikir bahwa bulan lebih seperti sebuah planet, mengacu pada adanya kesamaan sistem orbit pada bulan dan Bumi. Bulan dan bumi sering disebut sebagai planet ganda.

9. Bulan membentuk air pasang di laut
Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis mengikuti siklus bulan. Gravitasi bulan telah menarik lautan di Bumi. Air pasang terjadi ketika Bumi berputar di bawah bulan.

Salah satunya adalah pasang laut purnama yang terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Situasi ini terjadi ketika Bumi, bulan dan Matahari berada dalam satu garis lurus. Pasang naik menyebabkan gelombang yang sangat tinggi dan pasang surut membuat gelombang menjadi sangat rendah.

Selain itu, tarik menarik gravitasi antara Bumi dan bulan memiliki efek yang menarik. Sebagian energi rotasi Bumi yang ditarik oleh bulan, menyebabkan melambatnya rotasi Bumi, sekitar 1,5 milidetik setiap abadnya.

10. Selamat jalan, Bulan
Ketika Anda membaca ini, bulan telah bergerak menjauh dari Bumi. Benar, setiap tahunnya, bulan mencuri sebagian energi rotasi bumi dan menggunakannya untuk mendorong sejauh 3,8 sentimeter lebih tinggi dari orbitnya.

Para peneliti mengatakan, ketika awal terbentuknya bulan, jaraknya dengan Bumi hanya sejauh 22.530 kilometer. Saat ini, jarak antara bulan dan Bumi sudah mencapai 450.000 kilometer. Jika gravitasi Bumi sudah tidak terlalu kuat, suatu hari nanti, bulan akan meninggalkan Bumi.