Jumat, 12 Desember 2014

Perang Kamang

Assalamu’alaikum,W.W. Saya Hirwan Putra Kamang Asli. Mohon maaf sebelumnya saya ingin menanggapi dari apa yg Saudara ceritakan dalam blog ini banyak yg tdk sesuai dengan realita Perang kamang 1908. Jika dicermati isinya diduga ada upaya untuk mengaburkan/membelokan sejarah Perang Kamang. Ini dapat dilihat antara lain :
A. Diawal penulisan sudah ditemui kekeliruan, yaitu “Kamang, dulu merupakan sebuah kelarasan yang mencakup Aur Parumahan, Surau Koto Samiak, Suayan, Sungai Balantiak. Setelah Kemerdekaan Kamang terbagi menjadi menjadi dua nagari yaitu Kamang Hilir dan Kamang Mudiak. Aur Parumahan menjadi Kamang Hilia, Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak”. Saudara Irwan Setiawan, perlu Saudara  sadari bahwa tulisan Saudara dibaca oleh banyak orang, pernyataan saudara ini sangat keliru dan tumpang tindih. Dikatakan sangat keliru karena :
a. Sewaktu memakai sistem Kelarasan (tahun 1870 - 1908),  nagari yang tercakup dalam Kelarasan Kamang adalah: Kamang, Bukik, Suayan, Sungai Balantiak. Belum ada nama nagari Aur Parumahan maupun Surau Koto Samiak. Kelarasan Kamang, Angku Larasnya  orang Kamang dan berkedudukan di Kamang, maka  disebutlah Lareh Kamang. Setelah Perang Kamang 1908 sistem kelarasan dihapus, diganti dengan Admisistratif Onderdistrik yang dikepalai oeh seorang Asisten Demang. Setelah memakai sistem Admisistratif Onderdistrik ini, untuk menghilangkan pengaruh  nama Kamang, supaya Perang Kamang jangan ditiru oleh nagari-nagari lain, sekitar tahun 1916 nama Nagari Kamang diganti dengan Aua Parumahan, Bukik  berobah nama menjadi Surau Koto Samiak.
b.    Tidak ada Nama Nagari Aur Parumahan menjadi Nagari Kamang Hilir, sebab setelah kemerdekaan tahun 1945 nama Nagari Aur Parumahan oleh Kerapatan Nagari telah  dikembalikan kepada nama aslinya  yakni “ Kamang”.
c.    Selanjutnya dikatakan tumpang tindih dapat dilihat dari, pertama “Setelah kemerdekaan Kamang terbagi dua (yaitu Kamang Hilir dan Kamang Mudiak),  kedua (Aur Parumahan menjadi Kamang Hilia, Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak).
Saudara Irwan Setiawan, untuk Saudara ketahui Nagari Kamang Hilia dan Kamang Mudiak bukan bukan Pemekaran Nagari.  Sebutan Kamang Hilia dan Kamang mudiak dimulai semasa  perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1949.  diantara tokoh-tokoh waktu itu yang mengatas namakan anak nagari, antara lain Saibi St.Lembang Alam, Ak.Dt Gunung Hijau, Patih A, Muin Dt.Rky.Maradjo, dalam suatu rapat di Anak Air Dalam Koto  Kamang,  sepakat untuk menambah Hilir di belakang Kamang, sehingga menjadi Kamang Hilir,  sedangkan  Nagari Surau Koto Samiak dirobah menjadi Kamang Mudiak. Tujuan perobahan nama nagari seperti ini saya tidak tahu pasti, tetapi “kalau lai  ilmu mangana aka maminteh” jawabnya ada pada kita masing-masing.
Nagari itu merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat, adat salingka nagari cupak salingka suku. Secara jujur harus kita akui bahwa hukum adat Nagari Kamang  dengan hukum adat Nagari Surau Koto Samiak tidak ada sangkut pautnya. Kenapa Nagari Surau Koto Samiak mau berobah /menyangkut/memakai nagari  Kamang, ini saya rasa perlu dianalisa lebih mendalam.
B. Selanjutnya didalam uraian jalannya perang Kamang, Saudara mengutip jalannya perang kamang dari buku “Kamang Dalam Pertumbuhan dan perjuangan menentang Kolonialis yang  dikarang oleh Alimin Sutan Majo Indo, Terbitan Rehevi, Jakarta 1996”. Kemudian membelokan-belokannya serta mengurangi isinya menurut maunya Saudara sendiri yang bisa menimbulkan kekeliruan sejarah Perang Kamang. Ini dapat dilihat antara lain:
(1). “Pada senja hari, Belanda mulai bergerak mengepung rumah H. Abdul Manan untuk menangkapnya karena dinilai beliau lah yang menjadi dalang pergolakan adalah kaum agama.Tetapi H. Abdul Manan berhasil meloloskan diri dan segera menemui Dt. Rajo Penghulu di Kamang (sekarang Kamang Hilir) untuk berkonsultasi.Akhirnya bertiga dengan Kari Mudo dan beberapa orang pemuka lainya, mereka langsung mengadakan rapat kilat untuk membahas perkembangan yang sangat kritis dan menyusun kesiagaan seluruh rakyat guna mengobarkan perang sabil. Pasukan Belanda yang masuk dari Tanjung Alam dan Gadut bertemu di Kamang Mudiak Sekarang, Sehingga pejuang-pejuang dari Kamang (Kamang Mudiak dan Kamang Hilir) terkepung di Kampung Tangah”.  Kalau saudara menyebutkan Sehingga pejuang-pejuang dari Kamang (Kamang Mudiak dan Kamang Hilir) terkepung di Kampung Tangah. Ini adalah “keliru besar” tidak sesuai dengan realita pada waktu itu, pada waktu itu belum ada Kamang Hilir dan Kamang Mudiak, yang ada hanya Kamang (sekarang Kamang Hilir). Nagari Kamang Mudiak  belum memakai nama kamang seperti sekarang ini, masih bernama Bukik.  Pejuang Kamang yang pada waktu itu datang ke Kampung Tangah dibawah pimpinan M.Saleh Dt.Rajo Pangulu adalah untuk menyerang pasukan Belanda yang beristrahat di sana, bukan terkepung. (untuk lebih jelasnya baca Realita Perang Kamang).
(2). Kalimat yang Saudara  dikutip dari buku karangan Alimin sutan Majo Indo pada halaman 81 dan 82  yang tercantum ” Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari, Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi.Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir.Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi.Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing mereka datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali.Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengan senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah.Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan.Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya.Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda. Lebih kurang 100 orang pejuang syahid di jalan Allah, termasuk H. Abdul Manan. Pasukan dari daerah Kamang barat (kamang hilir) pun banyak yang syahid di Kampung Tangah.  Di sini Saudara mengutip kalimat tidak secara utuh dan menukar subyeknya.
Kalimat aslinya adalah “Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari itu,bintang J.Westennenk sebagai pelaksana kolonial terlindung oleh bintang M.Saleh Dt.Rajo Pangulu sebagai pembuka perang.  Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing mereka datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali. Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengan senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah.Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan. Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda. M.Saleh Dt.Rajo Pangulu bersama 70 orang anggota pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, diantaranya terdapat dua orang srikandi yaitu Siti Asiah istri Dt.Rajo Pangulu dan Siti Anisah. Selain itu mengalami cacat, tercatat 20 orang.
Jika dilihat dua kutipan di atas, saudara  diduga ada upaya untuk mengaburkan siapa  pemimpin perlawanan rakyat tersebut, dan membelokkan/menukar sejarah Perang Kamang. Dalam kutipan tersebut tidak disebutkan siapa pemimpin Perang Kamang, dan juga telah menukar subyek nya. Subyek sebenarnya adalah  M.Saleh Dt.Rajo Pangulu bersama 70 orang anggota pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, diantaranya terdapat dua orang srikandi yaitu siti Asiah istri Dt.Rajo Pangulu dan siti Anisah. Selain itu mengalami cacat, tercatat 20 orang.  Bukan yang ditulis Saudara Irwan Setiawan  {Lebih kurang 100 orang pejuang syahid di jalan Allah, termasuk H. Abdul Manan.Pasukan dari daerah Kamang barat (kamang hilir) pun banyak yang syahid di Kampung Tangah}. Kepada para pembaca sekali lagi diulangi pada waktu itu tidak ada Kamang Barat (Kamang Hilir ) yang ada hanya “Kamang”  (sekarang Kamang Hilir).

Hirwan

7 komentar:

  1. Sdr, Siyuka lika, setelah saya membaca dengan cermat bantahan saudara, rasanya bantahan saudara tidak punya referensi yang memadai, Saya sarankan sdr. cari refensi yang cukup sahih dulu, Sebab Sejarah Perang Kamang itu terjadi antara Rakyat Kamang dengan Belanda....Nah tolong lihat juga dokumen2 versi Belanda...Tidak ada satu katapu Belanda menyebut M.Saleh Dt Rajo Penghulu sebagai pemimpin Perlawanan Rakyat Kamang, Tks.

    BalasHapus
  2. Sdr, Siyuka lika, setelah saya membaca dengan cermat bantahan saudara, rasanya bantahan saudara tidak punya referensi yang memadai, Saya sarankan sdr. cari refensi yang cukup sahih dulu, Sebab Sejarah Perang Kamang itu terjadi antara Rakyat Kamang dengan Belanda....Nah tolong lihat juga dokumen2 versi Belanda...Tidak ada satu katapu Belanda menyebut M.Saleh Dt Rajo Penghulu sebagai pemimpin Perlawanan Rakyat Kamang, Tks.

    BalasHapus
  3. Assalamu’alaikum W.W, saya Hirwan Saidi, ingin menanggapi komentar Saudara.
    Saudaraku Kind Hardy, terlebih dahulu saya menyampaikan mohon maaf atas tanggapan saya pada komentar Saudara dalam blog Siyuka Lika ini. Sebelum saya memberikan tanggapan atas komentar Saudara terlebih dahulu saya sampaikan bahwa apa yang telah di postkan oleh Siyuka Lika dalam blognya ini adalah komentar saya terhadap tulisan Irwan Setiawan yang berjudul Perang Kamang 1908 Sebuah Pembuktian Kekuatan Persatuan Tali Tigo Sapilin yang dimuat pada tanggal 12 Maret 2013, oleh sebab itu saya merasa terpanggil untuk menanggapi komentar Saudara, meskipun komentar Saudara ditujukan untuk Sdr.Siyuka Lika. Saya juga berterima kasih pada Saudara yang telah memberikan kritik pada tulisan saya yang tidak punya referensi yang memadai.
    Saudaraku Kind Hardy, pada dasarnya bantahan saya pada tulisan tersebut dapat dibedakan atas 2 (dua) bagian :
    A. Sejarah dan asal usul nama Nagari Kamang yang ada sekarang (Kamang Hilir dan Kamang Mudiak) dan keberadaan Laras Kamang. Dalam hal ini telah saya paparkan tentang perobahan nama nagari Kamang Mudiak sekarang dan Kamang Hilir sekarang. Dalam hal ini referensi yang saya pakai adalah Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialis, A.Sutan Majo Indo, 1996. Untuk lebih jelasnya saudara juga bisa baca Peberontakan Pajak, karangan Rusli Amran, 1988.
    Setelah membaca komentar Saudara. Rupanya Saudara belum memahami sejarah sebutan Nagari Kamang yang ada sekarang (Hilia dan Mudiak), dan juga sejarah Perang Kamang. Untuk Saudara ketahui nama perobahan Nagari sebelum bernama Kamang Hilir dan Kamang Mudik dapat dilihat sebagai berikut :
    KAMANG HILIR:
    Sejak ada keberadaannya s/d Tahun 1913 bernama Kamang; Tahun 1913 s/d Tahun 1945 bernama Aua Parumahan; Tahun 1945 s/d Tahun 1949 bernama Kamang; Tahun 1949 s/d sekarang bernama Kamang Hilir.
    KAMANG MUDIAK
    …………... s/d Tahun 1913 bernama Bukik (Pauh-Bansa); Tahun 1913 s/d Tahun 1949 bernama Surau Koto Samiak; Tahun 1949 s/d sekarang bernama Kamang Mudiak.

    BalasHapus
  4. Saya ulangi lagi bahwa sebutan untuk Nagari Kamang Hilia dan Kamang Mudiak baru lahir tahun 1949. Dimana pada waktu itu diantara tokoh-tokoh yang hanya mengatasnamakan anak nagari, antara lain Saibi St.Lembang Alam (Nagari Kamang), Ak.Dt Gunung Hijau (Nagari Surau Koto Samiak), Patih A, Muin Dt.Rky.Maradjo (Nagari Surau Koto Samiak), dalam suatu rapat di Anak Air Dalam Koto Kamang, sepakat untuk menambah Hilir dibelakang Kamang, sehingga menjadi Kamang Hilir, sedangkan Nagari Surau Koto Samiak mereka robah menjadi Kamang Mudiak.Penukaran nama Nagari Kamang menjadi Aua Parumahan dan Nagari Bukik (Pauh-Bansa) menjadi Surau Koto Samiak pada tahun 1913 oleh Belanda ada sebab dan dasarnya. Untuk Saudara ketahui asal usul Nagari Kamang (sekarang Kamang Hilir) Saudara bisa baca Sejarah dan Sosiologi Nagari Kamang Hilir. Kalau asal usul nagari Bukik saya memang tidak tahu, ini bisa Saudara pelajari kepada tetua di nagari Saudara, seperti Ketua KAN. Masing-masing nagari itu ada tambonya.
    Tentang perobahan nama Nagari Kamang menjadi Kamang Hilir dan Nagari Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak, kita kesampingkan sementara yang namanya referensi. Coba Saudara tanyakan kepada tetua kelahiran sekitar tahun 1930-an yang merupakan saksi hidup. Kalau mereka menjawab dari lubuk hati yang dalam dan tidak mendustai hati nurani maka mereka akan membenarkan apa yang saya sampaikan tersebut. Disamping itu Saudara juga bisa melihat fakta dilapangan. Nagari itu pada kakekatnya adalah merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat, yang terdiri dari beberapa suku, beberapa Jorong, ada batas-batas tertentu dengan dialek tersendiri. Adat salingka nagari cupak salingka suku. Coba kita amati sekarang di dalam masyarakat apakah sama adat masyarakat Kamang Hilia dengan masyarakat Masyarakat Kamang Mudiak?; Dialek orang Kamang Mudiak berbicara dengan dialek orang Kamang Hilia apakah sama?, ini sudah jelas tidak sama. Walaupun nama nagari sudah dirobah, Kamang dirobah menjadi Aur Parumahan, Bukik dirobah menjadi Surau Koto Samiak. Selanjutnya Aua Parumahan dikembalikan kepada nama aslinya yakni Kamang, Kemudian Kamang berobah menjadi Kamang Hilia, Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak. Itu hanya perobahan nama. Adat, dialek dan sejarah tidak berobah. Ini sudah merupakan fakta bahwa Kamang Hilia dan Kamang Mudiak sekarang bukan pemekaran nagari sebagaimana yang ditulis dalam blog Perang Kamang 1908 Sebuah Pembuktian Kekuatan Persatuan Tali Tigo Sapilin.

    BalasHapus
  5. B. Dalam uraian jalan Perang Kamang saya menanggapi tulisan Saudara Irwan Setiawan yang dikutip dari Buku Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialis, A.Sutan Majo Indo, 1996. Dimana kutipan tersebut tidak utuh dan telah merobah subyeknya. Hal ini saya sampaikan sedetil-detilnya apa yang dia kutip, paragraf dan halaman keberapa dia kutip; semua ini bisa dibuktikan dengan nyata. Rreferensi pembuktian ini hanya “Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialis, A.Sutan Majo Indo, Harevi Jakarta,1996”.
    Mengenai referensi tentang Kamang dan Perang Kamang yang kami pakai diantaranya adalah Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialis, Alimin Sutan Majo Indo, 1996. Kalau menurut Saudara referensi tersebut tidak sahih itu sah-sah saja, itu merupakan hak pribadi saudara menilai sesuatu hal. Tetapi menurut kami referensi tersebut cukup sahih karena Kami mencermati buku “Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialisme, Alimin St.Majo Indo, 1996”, bagian yang membahas tentang Perang Kamang salah satu sumbernya adalah laporan Kontrolir (Westennenk) kepada Gubernur Sumatera Barat Heckler dalam buku Pemberontakan Pajak 1908 karangan Rusli Amran, 1988, dan juga sebagaimana yang disampaikan oleh pengarangnya juga besumber dari wawancara dengan pelaku sejarah itu sendiri. Selanjutnya, buku Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialisme, menurut hemat kami sudah sahih, kuat dan baku, karena sudah diakui oleh berbagai pihak yang berkopenten, yaitu : KAN Kamang Hilia (kamang asli), Kepala Perwakilan Tilatang Kamang, Kakanwil DEPDIKBUD Propinsi Sumatera Barat dan Gubernur Sumatera Barat. Menurut Saudara dimana letak kurang sahihnya?
    Pernyataan Saudara yang berbunyi “Sebab Sejarah Perang Kamang itu terjadi antara rakyat Kamang dengan Belanda..”,saya sangat setuju dengan pendapat Saudara dan bisa disesuaikan dengan tulisan Rusli Amran dan A.St.Majoindo. Dimana aktivitas terbesar menentang blasting adalah di Nagari Kamang (Kamang Hilir sekarang). Sehingga terjadi penyerangan oleh pasukan rakyat kamang dibawah pimpinan M.Saleh Dt.Rajo Pangulu terhadap tentara belanda yang berada di Kampung Tangah (Nagari Bukik). Itulah sebabnya diberi nama dengan Perang Kamang. Seandainya tidak ada pasukan rakyat kamang dibawah pimpinan M.Saleh Dt Rajo Pangulu menyerang tentara belanda tersebut maka tidak akan ada yang namanya perang kamang. Namun dibalik itu semua mereka yang ikut bertempur pada tanggal 15 Juni 1908 bukan orang Kamang semuanya, melainkan juga pejuang dari Nagari lain terutama nagari sekitar seperti Bukik, Magek, Suayan dan Tilatang. Disamping itu juga ada yang berasal dari luar Luak Agam seperti Malalo, Pandai Sikek, Indra Pura.

    BalasHapus
  6. Selanjutnya menurut Saudara tidak ada satu katapun Belanda menyebut M.Saleh Dt.Rajo Pangulu sebagai pemimpin perlawanan rakyat Kamang; saya rasa pernyataan Saudara ini keliru. Coba kita pelajari buku Pemberontakan Pajak yang membahas Perang Kamang. Diawal mulai disebar luaskan peraturan blasting, Dt.Rajo Pangulu bersama-sama dengan pemimpin Kamang lainnya langsung menentangnya. Secara tersurat mengenai Dt.Rajo Pangulu sebagai pemimpin juga bisa Saudara lihat laporan Westennenk dalam buku Pemberontakan Pajak 1908 karangan Rusli Amran, halaman 150, urutan ke 7 nama-nama yang tewas dalam Perang Kamang. Dalam hal ini Saudara juga bisa menela’ah laporan Gubernur Sumatera Barat Hecler kepada Gubernur General Van Heutez “Kemarin patroli di Bukittinggi dibawah Westenenk untuk menangkap para pemimpin di berbagai kampung. Baru saja datang kawat dari pejabat residen Bovenlanden, minta bantuan tentara karena tadi malam terjadi perkelahian hebat di Kamang. Sepuluh kali rakyat menyerang dengan senjata tajam. Pihak kita mati 9, 13 luka-luka. Dari pihak rakyat 90 mati. Tentara sangat letih karena aksi selama 12 jam, 4 brigade marsose dikirim dari Padang Panjang ke Bukittinggi. Patroli Westennenk sewaktu menggeledah rumah-rumah diserang oleh 25 orang berpakaian putih yang mula-mula sembunyi dibelakang rumah : 5 serdadu dan 2 pribumi mati Kemudian dijalan, tentara diserang 50 orang dengan kelewang, mereka semua mati, Antara yang meninggal adalah Datuk Rajo Pangulu dan lain-lain pemimpin termasuk 2 wanita. Kemudian Penghulu Kepala Ilalang yang sudah pensiun dibunuh beserta 5 kuda dan rumahnya dibakar. Datuk Parpatih ditangkap di Magek. Dia sempat membunuh Warido dan Pengulu Kepala Tigo Lurah, melukai 2 serdadu”. (Pemberontakan Pajak 1908, Rusli Amran, hl 142-143)

    BalasHapus
  7. Jika dicermati dengan seksama Laporan Gubernur Sumatera Barat Hecler kepada Gubernur General Van Heutez tersebut, sudah tersirat bahwa yang menjadi pemimpin Utama Perang Kamang 15 Juni 1908 adalah Dt. Rajo Pangulu. Ini dapat kita lihat; Hecler sebagai seorang Gubernur dalam menyampaikan laporannya kepada Gubernur General (Van Heutez) orang yang pertama kali disebut dari pihak rakyat yang melakukan perlawanan adalah Datuk Rajo Pangulu. Tidak mungkin Hecler menyebut Dt.Rajo Pangulu kalau tidak beliau sebagai “the man behind the gunnya” Perang Kamang tersebut. Dan ini juga sesuai dengan sejarah yang ada di Nagari Kamang (sekarang Kamang Hilir) Dt.Rajo Pangulu sampai menjadi Pimpinan Perlawanan Menghadapi Belanda terlebih dahulu melalui proses. Dimana Garang Dt.Palindih bersama dengan cerdik pandai yang bernama Abdul Wahid Kari Mudo yang sejak semula dengan tegas menentang pungutan blasting, menyampaikan masalah ini kepada Basa nan Barampek seterusnya dibawa dalam sidang lengkap Ninik Mamak Kanagarian Kamang (sekarang Kamang Hilir). Atas dasar cupak nan salingka suku, adat nan salingka nagari, dimana Kamang sebagai penerus adat Koto Piliang, hearkhinya adalah Basa nan Barampek, Pucuak nan Duo Puluah duo, Bungka nan Tangah Lapan Puluah merupakan pimpinan tertinggi tradisional ditengah-tengah masyarakat, akhirnya dalam sidang Kerapatan Adat Nagari Kamang sepakat mengangkat “Muhammad Saleh Datuak Radjo Pangulu Sebagai Pimpinan Perlawanan Menghadapi Belanda”. Kemudian memang terbukti beliaulah (Dt.Rajo Pangulu) yang memimpin pasukan rakyat dari Kamang (sekarang Kamang Hilir) menyerang Pasukan Belanda yang berada di Kampung Tangah. Jika kita hubungkan laporan Hecler tersebut dengan diangkatnya M.Saleh Dt.Rajo Pangulu sebagai pimpinan perlawanan menghadapi Belanda dalam sidang Kerapatan Adat Nagari Kamang ada singkronnya.
    Selanjutnya juga saya sampaikan tentang sejarah Perang Kamang. Disamping kita memakai referensi tulisan belanda kita singkronkan dengan sejarah yang ada di Nagari Kamang itu sendiri karena disini banyak yang menjadi pelaku sejarah. Pelaku sejarah tersebut merupakan sumber akurat penulisan sejarah Perang Kamang yang telah dimuat dalam beberapa buku, diantaranya :
    1. Kamang Dalam Lintasan Sejarah Perjuangan Bangsa, Tim Penyusun Monografi Kamang, 1995.
    2. Kamang Dalam Pertumbuhan dan Perjuangan Menentang Kolonialisme, Alimin St.Majo Indo, 1996”.
    Dengan adanya dua buku tersebut yang memuat sejarah Perang Kamang yang ditulis oleh Putra-putra Kamang asli maka sejarah tersebut “indak kahilang coreng dibatu”.

    Setelah kita menelaah referensi Perang Kamang kedua belah pihak (Belanda dan Kamang) maka bantahan Saudara mengenai pemimpin Perang Kamang terjawab sudah dan tidak diragukan lagi. Kalau kita berfikir secara logis maka tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin utama Perang Kamang 15 Juni 1908 adalah M.Saleh Dt.Rajo Pangulu.
    Saudaraku Kind Hardy, apa yang telah saya sampaikan diatas maksud saya bukan untuk menggurui atau membuat permusuhan, hanya semata-mata menyampaikan reality history berdasarkan data sejarah serta fakta yang ada dilapangan. Terakhir saya sampaikan kepada kita semua kok ado manyingguang ka naik manggisia ka turun. Mohon maaf. Terima kasih.

    BalasHapus